Tampilkan postingan dengan label Sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sakinah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

Andalah yang Akan Ditanya

Bismillahirrahmanirrahiim . . .

Judul asli dari artikel ini adalah "Kitalah yang Akan Ditanya" karya Ustadz Mohammad Fauzil Adhim. Kata "Kita" melekat kuat pada judul tersebut, karena memang sebagian isinya adalah sebuah perenungan bagi kaumnya, Adam. Namun, sehubung di sini penjumputnya adalah perempuan, maka judulnya saya ganti, "Andalah yang Akan Ditanya" dengan tidak mengubah isi sedikitpun.

Terkhususkan para imam dan calon imam dimanapun anda berada, sebuah renungan kita bersama.

Semoga bermanfa'at . . .

@_@

*****


Inilah kisah Buhlul, salah seorang kerabat khalifah Harun Al-Rasyid. Ia seorang yang berilmu dan memiliki keutamaan dalam agama. Suatu hari, ketika ia sedang asyik bermain bersama anak-anak, Harun Al-Rasyid memanggilnya dan berkata, "Apa yang engkau lakukan?"
"Saya bermain bersama anak-anak, dan membuat sebuah rumah dari tanah liat," jawab Buhlul.

Minggu, 22 April 2012

Hukum Istri Mengambil Harta Suami Tanpa Izin

Bismillahirrahmanirrahiim . . .


Memindahtangankan harta orang lain tanpa mendapatkan izin, pada hakikatnya, tidak diperbolehkan dalam Islam.

Apa pun alasan yang digunakan, sekalipun maksud dan tujuannya untuk kebaikan, menolong fakir miskin, misalnya.

Harta termasuk salah satu hak yang diharamkan untuk diambil dan dipergunakan, kecuali atas izin pemiliknya.

Karena itu, kecaman dan larangan mencuri sangat ditegaskan secara tersurat dalam Alquran sebagaimana termaktub dalam ayat, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah kedua tangannya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS Al Maidah: 38).

Ketentuan itu pun berlaku bagi suami istri dalam sebuah institusi keluarga. Artinya, larangan mencuri harta berlaku bagi kedua belah pihak. Yang jadi persoalan, bolehkah seorang istri mengambil harta suami tanpa sepengetahuannya demi hajat sehari-hari keluarga?

Sabtu, 31 Maret 2012

Perbedaan Antara Menyegerakan dan Tergesa-gesa Dalam Pernikahan

Bismillahirrahmanirrahiim . . .

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh kawan . . .

Perbedaan Antara Menyegerakan dan Tergesa-gesa Dalam Pernikahan, begitulah kira-kira topik sulaman kearifan yang bersumber dari buku "Kado Pernikahan" dalam kesempatan kali ini, kawan . . .


Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa salah satu perkara yang perlu disegerakan adalah menikah. Begitu Islam mengajarkan. Menyegerakan bagi seorang laki-laki yang telah mencapai ba'ah adalah dengan segera meminang wanita baik-baik yang ia mantap dengannya. Ia mendatangi orang tua wanita tersebut dengan menjaga adab sambil membersihkan niat.

Jumat, 23 Desember 2011

Hukum Melamar Perempuan Yang Sudah Dilamar



Pada suatu hari, ada berita yang menyebutkan bahwa seorang ustadz yang juga tokoh masyarakat di ibu kota, didatangi seorang pemuda. Pemuda itu bermaksud untuk melamar anak perempuannya yang belum menikah. Namun, ustadz tersebut menjawab:  “Maaf, putri saya sudah ada yang melamar.”

Apakah jawaban tersebut menunjukkan bahwa seorang perempuan yang sudah dilamar oleh laki-laki, baik perempuan tersebut menerima, menolak, atau belum memberikan jawaban atas lamaran tersebut, pasti tidak boleh bagi laki-laki lain untuk melamarnya?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu diketahui terlebih dahulu bahwa para ulama membagi perempuan yang telah dilamar menjadi tiga keadaan:

  • Keadaan Pertama
Perempuan tersebut menerima lamarannya atau memberi jawaban “ya”. Maka, tidak dibenarkan bagi pria lain untuk melamarnya, kecuali laki-laki pertama membatalkan lamarannya atau mengijinkan orang lain untuk melamarnya.

Kamis, 08 Desember 2011

Hukum Menggugurkan Kandungan (Aborsi)


Oleh:

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullaah



Wahai muslimah!


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan makhluk di dalam rahimmu melalui kehamilan, sebagai amanat syar’i bagimu dan merupakan sunnatullah. Untuk itu, janganlah kamu tutup-tutupi amanat tersebut, sebagaimana firman-Nya:

    [وَلا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللهُ فِيْ أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ. [البقرة:٢٢٨

“Dan tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (Al-Baqarah: 228)

Janganlah kamu mencari alasan untuk menggugurkan kandunganmu dan menghindar darinya dengan cara apapun, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan padamu dengan berbuka di bulan Ramadhan, bilamana puasa itu menyusahkan dirimu atau puasa dapat membahayakan kehamilanmu. Sungguh perbuatan aborsi (menggugurkan kandungan) tidak asing lagi di zaman ini. Padahal perbuatan ini adalah perbuatan yang diharamkan!

Selasa, 06 Desember 2011

WANDU (Wanita Durhaka)


Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pribahasa ini sudah sering terlintas di telinga kita. Kandungan pribahasa ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita. Apalagi dalam kehidupan berumah tangga yang penuh dengan problema. Awalnya, semua terasa indah

Namun ketika badai menghadang, petir-petir kemarahan menyambar, awan pekat menyelimuti, tangis pilu mengiris hati; membuat semuanya berubah. Semuanya harus diterima sebagai sunnatullah. Kadang kita menangis, dan terkadang kita tertawa. Semua itu berada di bawah kehendak Allah -Subhanahu wa Ta’la- .

Kehidupan berumah tangga akan indah, jika masing-masing anggotanya mendapat ketentraman. Sedang ketentraman akan terwujud jika sesama anggota keluarga saling menghargai, dan memahami tugas masing-masing. Namun, tatkala hal tersebut tidak ada, maka alamat kehancuran ada di depan mata. Diantara penyebab hancurnya keharmonisan itu adalah durhakanya seorang istri kepada suaminya. Maka, pada edisi kali ini kita akan membahas bahaya istri yang durhaka.

Sabtu, 03 Desember 2011

Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah

Sebuah resensi buku "Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah" yang bersumber dari blog tetangga ini sengaja saya copas dan kupersembahkan spesial buat  kawan-kawan yang mungkin memerlukan sebuah bahan bacaan dalam rangka menuju keluarga sakinahnya. Semoga bermanfa'at ya . . .

@_@

***

Judul : Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah
Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penerbit : Pustaka At Taqwa
Cetakan : Cet. IV, Juni 2008
Halaman : xii+303

Buku yang ditulis oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas ini memang layak menjadi bingkisan yang istimewa bagi siapa saja yang ingin menuju keluarga sakinah. Isinya berupa panduan panduan tentang pernikahan yang islami. Disertai pula dengan hak hak dan kewajiban yang perlu diperhatikan oleh pasangan suami istri. Juga tentang arahan apa yang harus dilakukan bila sang buah hati lahir. Pada bagian akhir disertakan tentang berbakti kepada kedua orang tua, suatu fundamen yang penting dalam rumah tangga suami istri.

Senin, 31 Oktober 2011

Kualitas Ibu Menentukan Kualitas Anak



Kualitas Ibu Menentukan Kualitas Anak adalah tema Seminar Online Kharisma pada pekan terakhir bulan Mei 2008. Diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai negara di dunia, di antaranya adalah Inggris, Belanda, Jerman, Austria, Jepang, Australia dan tentunya Indonesia. Acara ini di selenggarakan di Chatroom Paltalk dan Yahoo Messenger selama kurang lebih 90 menit.

Tema tersebut dibawakan oleh Ibu Dra. Wirianingsih yang sangat kompeten menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik dan membesarkan putra/i-nya hingga mereka terbukti tidak hanya berprestasi secara akademik namun juga menjadi penghafal Al Qur’an. Dalam surat An Nisa’: 9, Allah mengingatkan agar orangtua tidak meninggalkan anak yang lemah di kemudian hari, baik itu lemah iman, lemah akal, lemah pikiran, lemah fisik, ataupun lemah mental. Hal ini jelas sangat berkaitan dengan ibu. Karena anak melekat erat pada ibunya secara fisik, maupun secara psikis.

Jumat, 21 Oktober 2011

Bengkok Itulah Kelebihan dan Keistimewaannya


Suatu hari, ia datang dengan muka marah, dada sempit, seakan isinya terpenuhi oleh bara api dan ia hendak menyemburkannya keluar sekaligus.

Aku katakan kepadanya: “Insya Allah Antum baik-baik saja!”

Ia menjawab: “Kalau saja aku tidak pernah menikah!!! Niscaya hari ini hatiku tenang, jiwaku tenteram dan pikiranku santai … !!!”

“Apa yang membuat pernikahanmu menyusahkanmu?” tanyaku kepadanya pura-pura tidak tahu.

“Siapa lagi kalau bukan si dia, perempuan itu!!!” jawabnya masih dengan nada marah.

“Engkau maksudkan istrimu??!!” komentarku asal-asalan saja.

“Betul sekali” sergahnya.

“Apa lagi yang engkau keluhkan darinya??” komentarku mencoba menyabarkannya.

“Boooanyaaak lah!!!” tanggapannya.

Selasa, 04 Oktober 2011

Hadits Ummu Zar'a



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Aisyah, “Wahai Aisyah diriku bagimu sebagaimana Abu Zar’ bagi Ummu Zar’”. Berkata Imam An-Nawawi, “Para ulama berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata demikian untuk menyenangkan hati Aisyah dan menjelaskan bahwa ia telah bersikap baik dalam kehidupan rumah tangga bersama Aisyah”. (Al-Minhaj XV/221)


Adapun bagaimana perlakuan Abu Zar terhadap Ummu Zar, terangkum dalam hadist Ummu Zar'a. Telah shahih diriwayatkan dari Aisyah radhiallohu'anha, bahwa beliau berkisah : Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikitpun kabar tentang suami mereka.

Ada beberapa pendapat tentang dari manakah kesebelas wanita tersebut. Ada yang mengatakan bahwa mereka dari sebuah kampung di negeri Yaman, ada juga yang mengatakan bahwa mereka dari Mekah. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka adalah para wanita di zaman Jahiliyah. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka ini adalah berasal dari umat yang telah berlalu (punah).

Senin, 19 September 2011

"Wanita Barakah . . . Murah Maharnya"


Melanjutkan artikel kemarin kawan, mengenai langkah-langkah yang perlu dicermati dalam mewujudkan keluarga sakinah penuh berkah. Tahapan selanjutnya untuk menuju keberkahan, terletak pada “Wanita Barakah” itu sendiri.

Sebagaimana kita ketahui, menikah hampir menyamai kemuliaan agama. Perjanjian nikah disebut mitsaqan-ghalizhan. Istilah ini tidak pernah dipakai dalam Al Qur’an, kecuali hanya untuk tiga peristiwa. Satu untuk perjanjian akad nikah, dan dua kali untuk perjanjian tauhid.

Sabtu, 10 September 2011

"Meminang Dengan Bismillah"


Dalam sebuah ebook “Kado Pernikahan” , di sana disebutkan bahwa ada beberapa langkah-langkah yang perlu dicermati sebagai aspek penunjang dalam mewujudkan keluarga sakinah penuh berkah. Untuk langkah awal yang paling mendasar dalam hal ini adalah tentang “Meminang Dengan Bismillah”.

Dalam konteks ini, yang dimaksud meminang dengan bismillah adalah mendahul
ukan “bismillah” (dengan menyebut asma Allah) dalam melakukan proses peminangan tersebut (memantapkan niat dalam hati). Dan tak lupa menyertakan pula "hamdalah" dan "shalawat".

Caranya dengan mengucapkan, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma shalli ‘aala Muhammad wa ‘alaa ali Muhammad,” atau dengan shalawat lainnya yang dibenarkan As-sunah.

Kemudian ucapkan :
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi- Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Aku datang pada kalian untuk mengungkapkan keinginan kami melamar putri kalian --Fulanah binti Fulan -- atau janda kalian --Fulanah binti Fulan." Atau kalimat lain yang semakna.

Kamis, 07 Juli 2011

Rahasia Do'a Pernikahan



Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat.


Karena begitu sakralnya upacara ini, maka ketika kita menghadiri suatu upacara pernikahan, entah itu pernikahan sahabat, rekan, handai tolan, sudah lazimnya kita memberikan ucapan atau do'a kepada mereka. Dan mungkin di antara kita ada yang masih mengucapkan do'a "Selamat berbagia, semoga murah rizki dan banyak anak." Atau mungkin ucapan-ucapan selamat lainnya.


Sabtu, 07 Mei 2011

Menikmati Episode Menunggu Jodoh

NIKMAT berarti segala sesuatu pemberian atau karunia (dari Allah), diantaranya berupa kesenangan (hidup). Kesenangan hidup merupakan bagian cerita (yang seakan-akan berdiri sendiri) dalam episode hidup manusia. Dan sebagian kita, memandang nikmat hidup itu, hanya berupa kebahagiaan dan kesenangan semata. Padahal, Allah SWT jelas-jelas menegaskan dalam Alquran bahwa sesuatu apapun yang diberikan-Nya itu adalah kenikmatan hidup di dunia (baca: QS. 42:36).

Betapa kasihannya bagi orang-orang yang kurang iman dan ilmu. Sehingga, hari demi hari yang dilalui dalam hidupnya selalu diliputi kesengsaraan yang datang silih berganti. Kecemasan dan kegelisahan merupakan salah satu indikasi hati manusia jauh dari ketentraman –membuat nikmat yang ada tidak lagi dirasakan sebagai nikmat.Kita sependapat kalau dalam hidup ini begitu banyak hal yang tidak diinginkan, tiba-tiba datang menimpa.

Permasalahannya, karena kita belum tahu ilmunya, perasaan pun semakin tertekan dan dapat ditebak akan berujung pada penderitaan. Tapi, bagi orang beriman dan tahu ilmunya, tentu hal itu akan diresponya secara bijaksana. Tepatnya, baginya setiap episode hidup selalu diposisikan untuk ibadah. Yakni apabila memperoleh kebahagiaan, dia bersyukur dan sebaliknya jika kesusahan menimpanya, dia bersabar dan tawakkal lagi berusaha menyempurnakan ikhtiar.
Menunggu Jodoh . . . .

Senin, 02 Mei 2011

Rahasia Pernikahan Bahagia: "No Sex Before Marriage"


Studi terbaru menyimpulkan bahwa pasangan yang tidak berhubungan seks sebelum menikah akan memiliki hubungan yang lebih kuat di masa depan.

Para peneliti di School of Family Life, Brigham Young University di Utah Amerika Serikat mewawancarai 2.035 suami-istri soal hubungan intim pertama mereka.

Analisis hasil wawancara menunjukkan bahwa pasangan yang berhubungan intim setelah jadi suami-istri, memiliki hubungan yang jauh lebih sehat dibandingkan yang mulai bersetubuh sejak awal pacaran.

Pasangan yang melakukan "no sex before marriage" punya 22 persen lebih tinggi dalam stabilitas hubungan, 20 persen lebih baik dalam tingkat kepuasan hubungan, Mereka juga 15 persen lebih bagus dalam kualitas seks, dan 12 persen lebih bagus dalam komunikasi suami-istri.

Bagaimana terhadap pasangan yang mulai berhubungan intim setelah mereka lama pacaran, tapi sebelum jadi suami-istri? Jawabnya, hanya setengah dari angka-angka di atas.

Menurut para peneliti, hubungan seks sebelum menikah artinya pasangan terlalu menekankan soal fisik dalam hubungan mereka, bukannya soal percaya, setia, dan komitmen.

Profesor Dean Busby, pemimpin penelitian itu, mengemukakan, "Banyak penelitian dengan topik tersebut memfokuskan diri pada pengalaman individu tentang seks. Hubungan pasangan bukanlah sekedar seks, dan penelitian kami menemukan bahwa mereka yang menunggu hingga jadi suami-istri akan lebih bahagia dalam aspek seksual. Saya pikir ini karena mereka lebih dulu belajar untuk bicara satu sama lain dan melatih diri untuk menyelesaikan masalah."

Pendapat tersebut didukung oleh Mark Regnerus, penulis buku "Premarital Sex in America".
Menurut dia, pasangan belum menikah tapi sudah berhubungan intim, banyak merasakan hubungan mereka tak cukup terbangun. Ini mereka rasakan saat waktunya hubungan harus lebih stabil dan saling percaya.
"Apapun agama mereka, menunggu hingga jadi suami-istri akan membuat proses komunikasi jadi lebih baik dan meningkatkan mutu stabilitas hubungan pada jangka panjang dan kepuasan menjalani hidup dengan pasangan."

http://hidayatullah.com/read/14715/26/12/2010/rahasia-pernikahan-bahagia:-

Kamis, 28 April 2011

Kewajiban sebagai Suami dan istri


Tidak sedikit para suami yang belum memahami kewajibannya sebagai seorang pemimpin rumah tangga yang di syariatkan islam. Banyak dari mereka hanya menganggap remeh hal tersebut bahkan mereka hanya menuntut kewajiban istri untuk dilakukan secara baik., tapi para suami enggan mengintrospeksi dirinya sendiri.
Begitu juga seorang istri, banyak pula dari mereka yang kurang memahami kewajibannya sebagai istri yang baik. oleh karenanya, berikut sekaligus akan kita pelajari kewajiban suami dan istri yang sesuai dengan syariat islam.

Minggu, 24 April 2011

Konsep MESRA dalam Membina Keluarga Islami



Membentuk dan membina keluarga islami merupakan cita-cita luhur setiap muslim. Keluarga islami adalah salah satu pondasi yang harus diwujudkan karena keluarga adalah salah satu unsur pembentuk masyarakat luas. Jika semakin banyak keluarga menerapkan konsep islami, maka diharapkan semakin mudah membentuk masyarakat islami.

Salah satu metode membina keluarga islami adalah dengan menerapkan konsep MESRA dalam keluarga.
MESRA merupakan kependekan dari Mendidik, Empati, Senyum, Rapi-Rajin dan Aktif. Lima langkah yang ingin ditawarkan dalam membina keluarga Islami.