Jumat, 09 September 2011

Di bawah Lindungan Ka'bah (Kisah Nyata)


"Abang! Ini adalah takdir Allah s.w.t. Kita terima bang dengan penuh ridho." Ujur si istri kepada suami sambil menggendong anak cacat yang baru dilahirkan itu.

"Ahhh!! Begitu mudah engkau berkata kalau ini takdir. Ini adalah akibat dirimu yang sial, maka lahirlah anak yang cacat ini...!" jawab suami menafikan kata-kata isterinya.

Si suami terus marah-marah menyalahkan isterinya. Kelahiran anak cacat yang tidak diingini itu kononnya bersumber dari si isteri, istri yang membawa sial. Istri membawa malu kepada suami dan seluruh keluarganya.

"Keturunan abang semuanya normal. Tak ada yang cacat seperti anak kau ini." berkata si suami dengan bibir mencibir menghina istri. Istri terdiam kaku. Dia tidak mau bersuara lagi. Dia hanya terus menangis dan terus menangis. Itulah bermulanya detik kepahitan hidup yang dirasai oleh seorang ibu muda. Mimpi indah selama ini telah padam dan diganti dengan kepahitan. Derita dan susah. Dirinya dihina dan dicemo'oh oleh suami sendiri.
Bayi yang masih merah disisinya itu belum tahu arti penderitaan dalam hidup. Ibunya tidak mau mempersoalkan kenapa anaknya dilahirkan cacat. Cacat yang belum pernah dialami oleh anak-anak lain dikampungnya. Cacat kurang jari pernah berlaku. Bibir sumbing pernah terjadi.

"Tapi, anakku cacat tak punya kaki, tak punya tangan." bisik si ibu di dalam hati. Hatinya remuk redam dan dia menangis lagi, sedih dan pilu.
"Tak apalah suamiku menghina, tetangga-tetangga pun turut menghina aku." bisik hati si ibu dengan sedih dan terus menangis.

"Ya Allah! Berilah kesabaran kepadaku..." Dia berdoa sambil menadah tangan.
Si ibu menarik nafas panjang. Alhamdulillah lega sedikit. Kebahagiaan ruang rumahnya mulai disinari cahaya matahari pagi. Kini dia hanya bersama dengan bayinya. Suaminya telah keluar entah kemana. Wajah bayi yang comel itu ditatapnya dengan penuh kasih sayang. Bayi itu diberi nama Hasan.

"Hasan, anak ku sayang! Aku tetap sayang padamu. Kelahiran mu adalah atas kehendak Allah s.w.t.. Kau ditakdirkan Allah s.w.t. jadi begini. Allah Maha Kaya, nak." bisik hati si ibu dengan tenang, penuh ridha atas ketentuan Ilahi.
"Ya Allah, Kau takdirkan anakku cacat begini. Aku yakin Engkau jugalah yang akan melimpahkan rahmat dan berkat pada dirinya." bisik hati si ibu lagi menaruh harapan penuh pada Tuhan Yang Maha Kaya.

Si anak semakin besar. Kini dia telah berusia dua tahun. Si bapak telah lari entah kemana. Si ibulah yang tetap membelanya dengan penuh kasih sayang. Apabila ke pasar, bayi itu dimasukkan di dalam periuk. Periuk itu dijinjing kesana-kemari. Ada orang yang bersimpati dan memberi uang, tetapi ramai yang terus mencemo'oh dan menghina. Ketika si anak masuk usianya lima belas tahun, penderitaan si ibu semakin bertambah berat. Ramai orang, terutama wanita-wanita terus menghina dan mencemo'ohnya. Akhirnya dia bersepakat dengan anaknya untuk menginggalkan kampung halaman.

"Hasan, Ibu ada ide." ujur si ibu kepada anaknya pada suatu pagi.
"Ide apa ibu?" tanya Hasan.
"Kita jual harta pusaka peninggalan kakek dan kita pergi ke Tanah Suci Makkah. Kalau boleh, kita terus tinggal di sana." ujur si ibu kepada Hasan.
"Ide bagus itu bu. Di sana kita boleh beribadah sebanyak-banyaknya. Bumi Allah s.w.t. ini luas bu..." anak yang lincah dan cerdik itu memberi persetujuan.

Alhamdulillah, akhirnya hajat dua beranak itu dimakbulkan Allah s.w.t.. Setelah mohon maaf kepada sanak-saudara, maka keduanya pun berangkatlah ke Tanah Suci Makkah. Meninggalkan kampung halaman yang terletak di wilayah kawasan Melayu diselatan Thailand. Peristiwa ini berlaku sekitar tahun 50-an.

Bumi Makkah kini telah ramai. Tidak seperti dahulu kala, ketika di zaman Nabi Ibrahim a.s. Waktu itu sunyi sepi. Tiada manusia yang tinggal di sana, tiada air dan tiada tumbuh-tumbuhan. Berkat ketaqwaan Siti Hajar dan berkat doa Nabi Ibrahim a.s. kini Makkah menjadi sebuah kota yang makmur. Ramai penghuninya yang datang dari seluruh pelosok dunia. Dan, di sana ramai orang-orang yang datang dari kawasan Asia Tenggara . Si ibu bersama anaknya yang baru datang itu telah disambut dan diterima dengan baik oleh orang-orang Makkah, khususnya yang berasal dari selatan Thailand yang banyak menetap disana.

"Jangan risau , kak. Tinggallah di rumah kami. Anggaplah kami ini seperti keluarga kakak. Kita sama-sama merantau, mengharap Rahmat di bumi Makkah." ujur seorang yang berasal dari Yala yang baik hati.

Kedua anak dan ibu itu pun tinggal di rumah tersebut. Si ibu membantu bekerja di rumah.-rumah penduduk. Anak yang cacat tetapi pandai membaca al-Quran itu mengajar mengaji kepada anak tuan rumah dan anak-anak tetangganya. Alhamdulillah, kehidupan mereka berdua benar-benar berubah. Hilang segala penderitaan dan kesusahan berganti aman tenteram. Rezeki datang tak putus-putus.

Pada suatu hari, ketika waktu sholat, si ibu ke masjid bersama anaknya. Anaknya itu didudukkan diatas kursi roda. Sampai di masjid, anaknya itu ditinggalkan di serambi masjid. Si ibu masuk ke kawasan kaum wanita di dalam masjid. Di Makkah boleh dikatakan sudah menjadi satu budaya yaitu sesiapa yang kelihatan dhaif, lebih-lebih lagi cacat maka amat mudahlah menerima sedekah dari para dermawan. Bersedekah amat digalakkan dalam Islam terutama kepada yang susah, tetapi umat Islam dilarang menerima sedakah kecuali jika miskin, cacat dan tak mampu untuk bekerja.

Hasan secara terpaksa menerima sedekah dari orang -orang yang hendak ataupun selesai sholat di masjid tersebut. Kehidupan mereka sudah berkecukupan, Bagaimanapun Hasan tidak lupa kaum keluarganya yang di kampung. Dia selalu mengirimkan uang dan hadiah kepada mereka melalui jamaah haji yang datang dari kampungnya.

Pada suatu hari, salah seorang Raja Saudi berkunjung ke Masjidil Haram. Baginda telah bertemu dengan Hasan. Hasan telah tanya dengan panjang lebar. Dari mana asal datangnya, dengan siapa dia tinggal di Makkah dan lain-lain lagi.

"Kamu mulai hari ini jangan minta sedekah lagi. Saya akan mengakui kamu sebagai rakyat Saudi. Kamu akan diberi tunjangan hidup bulanan. Kamu juga dianugerahkan sebuah rumah." titah Raja itu kepada Hasan. Betapa gembiranya Hasan pada masa itu, kerana terlalu gembira hinggakan dia menitiskan air matanya membasahi pipinya.

"Alhamdulillah syukur...! Terima kasih tuanku, Terimakasih tuanku, Terimakasih tuanku" ujur Hasan beberapa kali dengan rasa kegembiraan yang tidak terhingga.

Apabila si ibu mengetahui akan hal itu, betapa gembiranya si ibu. "Inilah berkat dan rahmat limpahan Allah kerena kita bernaung di bawah lindungan Ka'abah-Nya, wahai anakku." ujur si ibu dengan menitiskan air mata gembira sambil memeluk dan mengecup dahi anaknya.
Beberapa tahun kemudian usia Hasan telah bertambah, dua puluh lima tahun.lah sudah. Walaupun dia cacat kedua-dua belah tangan dan kakinya, namun badannya dalam keadaan sehat, dan sebagai insan biasa dia juga memiliki naluri sebagai manusia yang lain.

"Aku sehat, uang tunjangan hidup aku setiap bulan sangat lumayan, lebih dari cukup untuk keperluan diriku dan ibuku, malah rasanya aku mampu untuk menghidupi istri dan anak-anakku yang bakal lahir." bisik hati Hasan.

"Tetapi aku cacat.... siapa yang sudi menjadi istriku?." Hasan bersedih mengenangkan nasib dirinya. Kesedihan itu berlarutan beberapa hari, sampai suatu saat hal ini diketahui oleh ibunya.

"Kenapa kau sedih Hasan? Apa yang kurang untukmu. Uang ada, makanan cukup, rumah tempat kediaman pun ada." tanya si ibu kepada Hasan, anak kesayangannya.
"Coba ungkapkanlah kepada ibu, Hasan. Apa masalahmu?."
Hasan tak menjawab dan hanya mendiamkan diri. Si ibu yang tajam pemikiran itu akhirnya dapat menangkap kenapa anaknya bersedih.

"Hasan, Kau ingin mencari jodoh?." tanya si ibu.

"Siapalah orangnya yang sudi menjadi istri saya, ibu? saya cacat." jawab Hasan.
"Hasan, kalau sungguh kau ingin beristri, jangan sedih. Ibu akan berdo'a kepada Allah s.w.t. dan kau pun berdoa juga. Allah Maha Kaya, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Hasan." nasihat si ibu dengan suara yang lunak.

Hasil perbincangan mereka berdua itu maka akhirnya diutuslah seseorang ke kampung halaman mereka di selatan Thailand dengan membawa selembar gambar wajah Hasan yang memang tampan itu. Orang itu diamanahkan untuk mencari jodoh wanita solehah dan berbudibahasa. Dia diwakilkan menerima akad bagi pihak dari Hasan.

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah s.w.t, jodoh ditemui dan akhirnya diijab-qabulkan. Beberapa hari kemudian, wanita itu dibawa ke Makkah dan dipertemukan dengan pasangannya yang sedang menunggu di sana. Wanita itu diperkenalkan dengan suami dan ibu mertuanya. Aduh... alangkah terperanjatnya wanita itu saat melihat suaminya yang cacat itu. Dia terperanjat benar. Dia sama sekali tidak menyangka suaminya cacat sedemikian rupa. Wanita itu jatuh pingsan. Hasan pun sedih mengenangkan nasib dirinya. Istri yang baru ditemui nampaknya enggan menerima Hasan sebagai suaminya.

Melihat keadaan demikian, si ibu yang solehah itu segera mengambil wudhu lalu pergi ke Masjidil Haram lalu mendirikan sholat dua raka'at, kemudian berdoa kepada Allah s.w.t. semoga wanita tadi sembuh dari pingsannya.

"Ya Allah, sembuhkanlah menantuku, istri dari anak kesayanganku. Limpahkan perasaan kasih dan sayang dihatinya terhadap anakku, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Mengasihani." doa si ibu dengan sungguh-sungguh didepan Kaabah.

Si ibu pun lalu mengambil air Zamzam untuk diberi minum kepada menantunya dirumah. Sesampainya di rumah, Alhamdulillah, si ibu mendapati menantunya sudah sadar. Dia sudah mulai mengumbar senyum. Sedih telah hilang berganti kegembiraan. Dia bangun memeluk ibu mertuanya dengan erat sambil berkata. "Maafkan saya, ibu. Maafkan saya, ibu. "

Kemudian dia mendekati suaminya sambil berkata "Maafkan saya, bang. Maafkan saya, bang." sambil mencium dahi Hasan, suaminya. Hasan menitis air mata kegembiraan. Dia bersyukur kepada Allah s.w.t. Nampaknya si istri sudah menerima dirinya sebagai suaminya.

Ya, berkat do'a ibunya maka Allah s.w.t. telah meletakkan dihati wanita itu perasaan cinta, kasih dan sayang kepada suaminya yang cacat. Mungkin dia berkata di dalam hatinya "Kalau aku tidak mau menjadi istrinya, siapakah wanita lain yang sudi menerimanya sebagai suami."

Hasil perkawinan mereka itu telah dikaruniai delapan orang anak. Hasan sekeluarga tinggal disebuah perkampungan kira-kira empat kilometer dari Masjidil Haram. Mereka tinggal disebuah rumah dua tingkat yang sederhana. Hasan hidup bahagia, mendapat limpahan rahmat dan keberkatan Ilahi. Hasan mempunyai sumber pendapatan tetap tunjangan hidup yang lumayan. Dia juga memiliki sebuah kereta lengkap dengan pemandunya serta pembantu rumah.

Sungguh Allah Maha Kaya, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia yang mencipta hamba-Nya dan Dialah yang memberi nikmat kesenangan kepada siapa yang dikehendakiNya. Biarpun cacat, buntung kedua tangan serta kakinya, namun Hasan tetap berjiwa taqwa. Orang yang bertaqwa dikasihi Allah s.w.t.

Allah s.w.t. melimpahi rezeki yang tidak putus-putus dan segala masalah mendapat penyelesaian sebaik-baiknya. Hasan sungguh bahagia, lebih-lebih lagi apabila dia mendapat kasih sayang ibunya dan selalu dido'akannya dengan do'a-do'a kebaikan, tambahan pula segala doa-doa itu dipanjatkan didepan Ka'bah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar